Di Bawah Atap yang Retak

Oleh :

Dewi Agus Sulistyowati

(Kelas XI FKK)

Gemercik air memecah keheningan tanpa aba-aba, membuatku linglung. Di manakah tempat untukku berteduh? Aku juga ingin didengar, selayaknya makhluk. Di bawah atap yang sama, aku belajar bahwa rumah tak selalu berarti pulang.

Hujan turun di malam hari seperti biasa, tetapi kali ini lebih deras.

“Anggika, taruh embernya di bawah sana airnya masuk lagi.”

“Iya, Bu.”

Hujan malam itu tak juga reda. Tetesannya jatuh lebih cepat dari biasanya, seakan berlomba memecah sunyi.

“Dari tadi Ibu bilang taruh yang benar!” suara itu kembali meninggi.

Aku menunduk. Seperti biasa.

Sejak kecil, namaku lebih sering terdengar saat atap bocor atau piring pecah. Seolah-olah aku memang diciptakan untuk membereskan yang retak.

Seiring waktu, aku tumbuh lebih tinggi dari ember-ember itu. Tapi anehnya, peranku tak pernah berubah. Aku tetap menjadi penampung hal-hal yang tak sempat Ibu selesaikan.

Waktu berlalu dengan cepat tanpa kusadari kini aku menginjak SMA. Waktu berputar seperti bumi mengitari porosnya, sementara aku tetap tinggal di lingkaran yang sama. Tak mungkin aku melupakan jejak-jejak itu, meski waktu berusaha menghapusnya.

Sampai saat ini aku cenderung mengunci jati diriku seperti putri malu. Menurutku beradaptasi tidak semudah menyeruput secangkir kopi.

Sebagian besar temanku menilai aku orang yang rajin, ramah dan memiliki keunikan yang sulit ditebak. Mereka hanya mengenalku saat aku tampil sebagai versi yang mereka pahami.

Aku hanya bisa terlihat tumbuh di kalangan orang yang tidak mengerti seperti apa kehidupanku sebenarnya.

Semua orang melihatku bertumbuh, kecuali Ibu. Di mata ibu aku hanyalah seorang anak kecil yang mengerti waktu bermain.

Terkadang aku heran mengapa ibu bisa bersikap seperti itu kepadaku?. Padahal sejak kecil aku selalu menuruti segala apa yang ia inginkan. 

Sikap ibu berubah ketika Ayah meninggalkan kami begitu saja tanpa alasan. Ayah pergi ketika kami masih membutuhkan punggungnya. Semenjak itu ibu selalu mengekangku dengan segala aturan yang terdapat  konsekuensinya. Ia ingin aku menjadi seorang wanita yang tangguh dapat berdiri sendiri di atas kedudukan pria.

Ibu selalu mengingatkanku perihal belajar tiada kata lain. Hal itu terlihat bosan di mataku. Karena setiap hari dunia tempurku menghadapi buku yang tebal seperti kamus.

Hingga suatu hari namaku terpajang di papan pengumuman terdapat tulisan  “Anggika putri Husain Tatjana mengikuti lomba fisika tingkat provinsi”.

Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.

Kenapa harus aku? Mataku saja sudah mulai lelah menatap buku.

Setelah pulang sekolah aku memberitahu kabar itu kepada ibu

Namun ibu hanya bisa tersenyum tipis lalu berkata.

“Jangan sampai kalah membuat malu ibu” katanya dengan sorotan mata tajam.

Sontak aku kaget mendengar kalimat itu seperti sebuah ancaman.

“Menang atau kalah itu hal yang sudah biasa ibu?” ujarku.

Di saat itu ibu hanya bisa menatapku sekali lalu membuang mukanya. Ibu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri, seolah jawabanku tak pernah ada.

Terkadang aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya didengar bukan menjadi seorang pendengar. Rasanya jarak di antara kami lebih tebal dari dinding rumah ini. Seolah hidupku hanya berputar di satu sudut rumah yang tak pernah kubuka jendelanya. Hingga tak dapat menghirup seperti apa udara bebas di seberang sana.

Sebelum menjelang lomba aku mencoba mempersiapkan dengan belajar yang lebih giat lagi. Tapi apa arti belajar jika prosesnya sendiri pasti terasa sunyi. Di sela-sela aku mulai bosan aku memilih untuk membuka handphone sebentar berharap dapat menghilangkan rasa suntuk. Namun seperti dihantam ombak, kulihat Ayah mengunggah potret hangat bersama keluarga barunya. Aku hanya bisa menangis tanpa bersuara, lalu berkata.

“Apakah Ayah secepat itu melupakan kami?”

Apakah ia benar-benar bahagia tanpa kami?

Dengan cepat aku mengusap air mataku secara perlahan. Buat apa aku menangis di atas kebahagiaan mereka. Yang perlu aku ditunjukkan adalah kemampuanku  berdiri kokoh tanpa peran seorang ayah.

Hari perlombaan tiba lebih cepat dari yang kubayangkan. Aula sekolah terasa sesak oleh peserta dari berbagai kota. Seragam mereka rapi, wajah mereka penuh percaya diri. Aku berdiri di tengah keramaian, tetapi tetap merasa sendiri.

Di bangku penonton, aku tak menemukan sosok Ibu.

Entah kenapa, dada ini justru terasa ringan.

Saat soal dibagikan, jemariku sempat bergetar. Suara Ibu terngiang di kepalaku, “Jangan sampai kalah membuat malu Ibu.”

Namun untuk pertama kalinya, aku mencoba menepis kalimat itu.

Aku menarik napas panjang.

Hari ini, aku tidak ingin menang demi Ibu.

Aku ingin menjawab soal-soal ini demi diriku sendiri.

Setiap angka dan rumus yang selama ini terasa seperti beban, perlahan berubah menjadi pijakan. Untuk pertama kalinya, belajar bukan terasa seperti hukuman. Ia menjadi jalan keluar.

Waktu habis. Aku mengumpulkan lembar jawaban dengan langkah lebih mantap dari sebelumnya.

Pengumuman dilakukan sore harinya. Ketika namaku disebut sebagai juara dua tingkat provinsi, tepuk tangan memenuhi ruangan. Beberapa guru menepuk bahuku bangga.

Aku tersenyum.

Bukan karena piala kecil di tanganku.

Tapi karena untuk pertama kalinya, aku merasa melihat diriku sendiri bukan versi yang diinginkan orang lain.

Saat pulang, hujan kembali turun. Tidak sederas malam-malam sebelumnya. Hanya gerimis tipis yang jatuh pelan.

Ibu duduk di ruang tengah ketika aku membuka pintu.

“Aku juara dua, Bu,” kataku pelan.

Ibu menatapku lama. Wajahnya sulit ditebak. Lalu ia berdiri, mengambil piala itu, dan memandanginya.

“itu suatu hal  bodoh” ucapnya singkat.

Terdiam sesaat aku menyaksikan lontaran kalimat yang pedih. Seperti terlihat sia-sia usahaku selama ini tidak pernah dihargai.

Aku menelan ludah yang terasa pahit.

“Maaf,” hanya itu yang keluar dari bibirku.

Ibu meletakkan piala itu di meja tanpa melihatku lagi.

“Juara dua bukan yang terbaik.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti tetesan air yang tak pernah benar-benar jatuh.

Malam itu hujan kembali deras. Kepalaku berdenyut sejak sore, tapi aku memilih masuk kamar tanpa mengatakan apa-apa. Bukankah lelah juga sering dianggap alasan?

Aku duduk di tepi ranjang, mencoba membuka buku kembali. Huruf-hurufnya berbayang. Pandanganku kabur. Tubuhku terasa ringan, terlalu ringan.

Lalu semuanya gelap.

Ketika aku membuka mata, aroma minyak kayu putih menusuk hidung. Langit-langit kamarku terlihat samar. Suara hujan masih terdengar, tapi kini lebih jauh.

“Anggika…” suara itu tak lagi setajam biasanya.

Tanganku terasa digenggam. Hangat. Bergetar.

Untuk pertama kalinya, Ibu tidak berdiri. Ia duduk di sampingku.

“Kamu demam tinggi sejak tadi malam. Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah tidak kuat?”

Aku tersenyum tipis.

“Sejak kapan Ibu memberi ruang untukku bilang aku lelah?”

Kalimat itu keluar begitu saja. Pelan. Tapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih sunyi dari hujan di luar.

Ibu terdiam.

Matanya tidak lagi tajam. Ada sesuatu yang retak di sana—bukan marah. Bukan kecewa. Tapi sadar.

Selama ini, mungkin ia terlalu sibuk memaksaku berdiri, sampai lupa memastikan apakah kakiku masih sanggup menahan tubuh sendiri.

“Aku hanya ingin kamu kuat,” bisiknya lirih.

Aku memejamkan mata sejenak.

“Aku juga ingin kuat, Bu. Tapi kuat bukan berarti tidak boleh merasa lelah.”

Hujan masih turun. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak bangun untuk menaruh ember.

Ibu yang berdiri.

Ibu yang memindahkannya pelan.

Di bawah atap yang retak, akhirnya kami sama-sama mengerti. Yang perlu diperbaiki bukan hanya genting yang bocor, tapi cara kami saling menghargai.

Rumah mungkin belum sepenuhnya menjadi tempat pulang.